Seminggu Dengan Unity Desktop

Setelah beberapa bulan fulltime dengan windows karena tuntutan pekerjaan, minggu lalu saya mencoba berkotor-kotor lagi dengan ubuntu. Kali ini, saya ingin sekalian kotor dengan versi yang bleeding edge, yaitu ubuntu 11.04 (Natty Narwhal).

Pengalaman yang pertama kali saya dapat adalah saat melakukan instalasi OS melalui liveCD. Seperti pada versi-versi sebelumnya (read, 10.04, karena saya belum mencoba 10.10). instalasi menggunakan liveCD ini sangat mengasikkan. Karena, sembari installer melakukan proses instalasi, kita bisa melakukan browsing internet (kalau memang ada koneksi internet). Hanya saja, ternyata ada beberapa proses yang disempurnakan di sini. Beberapa yang saya tangkap adalah, saat proses instalasi awal, yang ditanyakan hanya di partisi mana kita akan menginstall dan persiapan dari partisi itu sendiri. Setelah itu, tinggal pencet tombol install. Nah, kerennya di sini nih. Sembari proses instalasi jalan, kita akan ditanyakan inisialisasi sistem, seperti: timezone, login user, keyboard setup, dll.

Selain itu, kita juga diberi tawaran, apa mau sekalian download system update yang mungkin sudah tersedia sejak CD installer ini direlease sampai saat kita melakukan instalasi. Ini keren banget! karena, kita tidak perlu menunggu proses instalasi selesai, lalu restart, lalu melakukan cek update. Sangat menghemat banyak waktu.

Pengalaman berikutnya berhubungan dengan unity desktop yang menjadi default interface di 11.04. impresi awal saya terhadap desktop ini, sangat baik. Dengan penggunaan unity desktop, screen realestate menjadi cukup lebar. Dengan menghilangkan title bar dan meletakkan menu bar pada top panel (seperti pada global menu), penggunaan layar jadi lebih maksimal.

Hanya saja, seperti produk-produk bleeding edge lainnya, masih terdapat beberapa hal yang cukup mengganggu. Mungkin ini karena mindset kita yang sudah terbiasa pada desktop-desktop sebelumnya, mungkin juga ini by-design. Karena, saya tidak tahu pasti juga. Beberapa kekurangan yang saya rasakan adalah:

  • Karena menubar diletakkan di top panel, menyebabkan kita tidak bisa menambahkan applet pada panel tersebut. Padahal, saya membutuhkan beberapa applet, seperti cpu themperature monitor dan bandwidth up-down usage.
  • Selain itu, shortcut default super+space yang dipakai gnome-do ternyata juga dipakai oleh unity dan saat dieksekusi, gnome-do kalah. Jadi mesti mengutak-atik dulu dan (mungkin) perlu ada penyesuaian lagi.[klik untuk melihat solusi]
  • Saat menekan tombol super, muncul window search untuk mencari file atau aplikasi yang terinstall. Perilaku ini juga terdapat pada windows 7. Sebenarnya ini bukan masalah. Yang menjadi kekurangan adalah pencarian melalui cara ini lebih lambat daripada saat menggunakan gnome-do (yang sampai saat ini belum bisa saya gunakan).

Begitulah sedikit pengalaman memakai unity desktop. Akan ada blogpost lanjutan sejalan pengalaman saya menggunakan desktop ini.

UPDATE #1

Untuk gnome-do, sudah ada solusinya. Caranya (seperti yang tertulis di askubuntu):

  1. Install compizconfig-settings-manager
  2. Tekan Alt+F2, ketik about:config lalu tekan Enter untuk membuka konfigurasi Unity.
  3. Lalu, anda bisa men-disable atau melakukan bind shortcut ke tombol lain untuk Key to Key to show the launcher

Author: Arief Bayu Purwanto

Hello, my name is Arief Bayu Purwanto, a 24 years old father of a beautiful daughter. Interested in online programming, linux, games, and reading. Currently working on kapanlagi.com as junior developer. I live in a relatively quite and cool place called Malang. I'm available for some freelance stuff as well as some consulting job. You can see my portofolio for some previous task I've finished and some other information related to my capability. Btw, I'm plurking here.