Setahun bersama penguin
Ya, tidak terasa sudah setahun saya hidup bersama penguin. Terhitung sejak akhir tahun 2006 Saya menggunakan full linux tanpa dual-boot dengan windows. Ya, murni linux. Sebenarnya saat itu adalah keputusan yang sangat sulit. Karena basis pendidikan saya saat kuliah adalah windows. Saat semester satu, dikenalkan dengan microsoft office. Semester berikutnya berturut2 Visual Basic 6, Oracle Form, ASP. Well, memang sih ada satu semester yang berhubungan dengan linux, tapi materinya hanya pengenalan perintah2 BASH yang SANGAT tidak menarik dan membosankan. Memangnya untuk apa sih mau baca CD-ROM saja mesti ngetik2 perintah. Kalau di windows kan langsung plug-and-play.
Lantas, kenapa nekat menggunakan linux? Nah, saya ceritakan dulu bagaimana saya berkenalan dengan linux. Jadi, saya bertemu dengan linux sebenarnya secara tidak sengaja. Saat semester satu ada perekrutan anggota UKM. Saya yang saat itu masih tergolong hijau di dunia komputer dan IT (walaupun sudah punya komputer sejak kelas 4 SD) memutuskan untuk bergabung dengan UKM Visual Basic, karena di sylabus, materi2 visual basic lebih banyak dari yang lainnya. Tapi, teman saya Doni meracuni dan mengajak saya bergabung dengan UKM linux. Akhirnya saat itu saya resmi jadi anggota UKM linux.
Di UKM ini kami didik untuk belajar mandiri. Hampir setiap pertanyaan selalu dijawab dengan jawaban standar, silahkan baca manual. Jawaban ini ternyata memacu saya untuk lebih banyak lagi belajar. Saat saya punya komputer sendiri di semester 4, saya menginstall komputer dual-boot dengan SuSE. Saat itu saya juga tertarik untuk belajar bahasa pemrograman PHP dan JAVA yang ternyata didukung oleh pihak UKM dengan disediakannya server dan subdomain khusus untuk belajar dan mendemokan hasil belajar di website kampus. Sejak saat itu saya memperdalam ilmu PHP dan JAVA saya.
Kalau itu tadi pengalaman selama di kampus, pengalaman saya selama di dunia kerja ternyata juga tidak jauh2 dari linux, PHP dan JAVA. Pekerjaan pertama saya membangun Sistem Informasi Akademik berbasis PHP. Di kantor berikutnya, saya bekerja di lingkungan full linux. Komputer kantor semua menggunakan linux, server2 juga dari linux. Solusi2 yang dijual oleh kantor juga menggunakan telnologi open-source. Saat di kantor ini komputer saya di kos rusak. Akhirnya saya beli laptop dan di-install linux dual-boot dengan windows. Karena saya merasa berat meninggalkan windows. Entah mengapa, pokoknya berat saja.
Akhir tahun 2006 saya keluar dari perusahaan karena ada ajakan dari kawan untuk mengerjakan proyek di Jakarta. Sejak saat itulah saya menggunakan linux full tanpa windows. Karena saya merasa tidak lagi membutuhkan windows. Sebab semua pekerjaan saya juga tidak ada yang berhubungan dengan windows. Saya tidak lagi menjadi programmer VB (walau dari awal juga tidak bekerja sebagai programmer VB). Menulis dokumen saya ganti dengan open-office. Saya juga semakin sering mengexplore linux, karena memang hanya linux yang ada
. Jadi, mau main game, menonton film, edit gambar, dll. Semua menggunakan linux. Kalau saya lagi kangen dengan vb, saya main-main dengan gambas. Jadi, tidak ada masalah dengan linux.
Hayo, bagaimana dengan anda yang masih menggunakan windows? inget, windows lho. Saya gak tanya yang menggunakan Mac
).









Pingback: Diff tool di Linux Dengan Meld | Silent's Spot